Kacung Marijan: “LDII Jangan Membuat Partai”

On April 4th, 2011, posted in: Berita Umum by

| Tags: , , ,

Untuk membuat demokrasi yang ideal, Negara harus meningkatkan kesejahteraan rakyat. Agar rakyat tak mudah dipengaruhi oleh uang politik.

Penerima hadiah nobel dari India, Amanta Sen, menyebutkan mengapa demokrasi dianggap lebih baik? Saat jutaan orang di dunia menderita kelaparan dan meninggal karenanya, namun tak satupun pemimpin yang lalim di dunia ini yang meninggal karena kelaparan.

Maka dalam Negara demokrasi, rakyat yang lapar itu dapat mengganti pemimpin yang lalim dengan pemimpin yang lebih memperhatikah rakyat. Selanjutnya pemimpin juga bisa megetahui keadaan rakyat karena adanya pers yang bebas, “Di zaman orde baru ada yang kelaparan, namun pers tak bebas membuat orang tak mengetahui adanya kelaparan,” kata Kacung Marijan.

Alasan berikutnya mengapa demokrasi baik, lantaran demokrasi memunculkan kompetisi antara calon pemimpin, untuk memberikan layanan publik yang terbaik agar dipilih oleh rakyat. Dengan demikian, kesempatan untuk memperoleh kesejahteraan masyarakat kian meningkat pula.

Namun demokrasi di Indonesia tak se-ideal yang dibayangkan, lantaran alas an memilih pemimpin yang dulunya karena alas an ideology bergeser karena rasional. “Bila rasional yang dipakai untuk memilih pemimpin yang programnya sesuai dengan kepentingannya, itu yang bagus sekarang ini rasional yang dipakai adalah siapa yang memberi fulus paling besar,” kata Kacung Marijan.

Akibatnya adalah rakyat menukarkan kepentingan jangka panjang dengan kepentingan jangka pendek. Uang politik memang memenuhi harapan rakyat dalam jangka pendek itu, namun dalam jangka panjang pemimpin yang terpilih akan melakukan korupsi untuk mengganti pengeluarannya. “Pada dasarnya taka da politisi yang ingin memberi duit,” imbuh Kacung. Korupsi inilah yang membuat rakyat menurun tingkat kesejahteraannya.

Uang politik juga melahirkan pemimpin-pemimpin yang tak cakap, lantaran mereka terpilih karena punya uang dan kekuasaan, bukan karena kualitas. Inilah yang membuat proses demokrasi di Indonesia belum mencapai tingkat ideal.

Untuk membuat demokrasi yang ideal, negara harus meningkatkan kesejahteraan rakyat. Agar rakyat tak mudah dipengaruhi oleh uang politik. Inilah peran strategis LDII untuk mensejahterakan warganya dengan pemberdayaan ekonomi, “Saya yang bukan orang LDII menyarankan LDII jangan jadi partai politik, tapi berdayakan warganya dengan ekonomi agar sejahtera,” pesan Kacung Marijan. Dia mencontohkan bagaimana ormas Islam hancur karena masuk kedalam ranah politik. Menurutnya, civil society yang dikembangkan oleh LDII berada dalam jalur yang tepat. “Dulu NU melakukan hal yang sama, namun ketika masuk ke politik menjadi terpecah,” imbuh Kacung Marijan.

Langkah selanjutnya adalah memberikan pendidikan yang baik, agar memiliki rasional yang bagus pula terhadap program-program yang ditawarkan oleh calon pemimpin dalam Pemilu. Sebab, pada dasarnya money politic tak sehat dunia akhirat. Di dunia praktek ini menimbulkan tingginya korupsi yang membuat distribusi kesejahteraan rakyat terganggu, sedangkan di akhirat pemimpin korup harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sebab itupula Kacung menyarankan ormas Islam seperti LDII jangan membuat parpol, namun menciptakan jejaring kerja dengan parpol. Dengan demikian ormas dapat memberikan masukan kepada pemerintah, sekaligus melakukan kritik dan turut aktif dalam membantu program pemerintah. Inilah bentuk civil society yang diharapkan Kacung Marijan kepada LDII, untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. (NP)

 

No Responses to “Kacung Marijan: “LDII Jangan Membuat Partai””

Leave a Reply