Jamaah Haji Harus Cintai Lingkungan

On March 29th, 2011, posted in: Berita Umum by

| Tags:

Jakarta – Saat musim haji tiba, jutaan umat Islam berkumpul di Mekkah untuk menunaikan ibadah. Namun sayang, selain lautan manusia, tercipta pula bukit-bukit sampah.

Hampir tiga juta jamaah memenuhi Mekkah setiap tahunnya, menunaikan kewajiban yang disyaratkan untuk Muslim yangmampu. Tak jarang, mereka yang sangat mampu kembali lagi untuk mengulang haji yang sebenarnya cukup sekali.

Hal ini ternyata menjadi perhatian khusus, terutama karena minimnya kesadaran akan lingkungan bersih. Botol-botol plastik banyak berserakan, bahkan terbawa kemana-mana karena terinjak orang yang berlalu-lalang. Demikian juga popok-popok bayi yang tercecer dan wadah makanan bekas yang tersebar di seluruh penjuru Mekkah.

Kristiane Backer, presenter televisi yang seorang muslimah menuding, sebagian besar umat Islam tidak menyadari jiwa yang menjunjung tinggi lingkungan hidup dalam Islam. Sebagaimana manusia pada umumnya memang tak paham betapa pentingnya melindungi lingkungan. 

“Menyingkirkan sikap budaya dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sangat penting guna pengembangan haji ke depannya,” ujarnya.

Agar Muslim bisa tetap menjalankan ibadahnya tanpa meninggalkan tanggung jawab terhadap lingkungan, Backer merasa pemerintah Saudi perlu membuat titik-titik daur ulang untuk wadah bekas makanan. “Kemudian memasang keran air minum di area-area penting,” lanjutnya.

Dalam kitab suci Al Quran tertulis, manusia adalah penjaga bumi dan harus bertanggung-jawab terhadapnya. Hal ini berlaku untuk kota suci Mekkah dan Madinah di Arab Saudi. Namun, pemandangan yang bertolak belakang malah terlihat saat musim haji tiba.

Terkait masalah sampah yang berserakan, Muslimah pemerhati lingkungan hidup, Rianne ten Veen, juga mengkhawatirkan frekuensi haji yang dilakukan umat Islam. Pasalnya, beberapa kali bertanya ke beberapa Muslim, selalu dijawab telah naik haji lebih dari sepuluh kali. “Seharusnya, ini kan menjadi perjalanan seumur hidup,” ujarnya.

Pada masa lalu, ketika transportasi ramah lingkungan masih digunakan dan jumlah jamaah masih sedikit, berulangkali naik haji bukanlah masalah besar. Namun kini, jamaah yang tinggal jauh dari Saudi seharusnya mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan, setiap kali mereka terbang ribuan kilometer ke Mekkah. Sekali seharusnya sudah cukup, terutama bagi mereka yang mencontoh kehidupan nabi.

“Terkadang perjalanan haji jadi berlebihan. Terkadang, justru ini yang mereka incar, naik haji sekaligus menikmati kemewahan,” lanjut Veen. Uang yang digunakan menginap di hotel mewah, imbuhnya, lebih baik jika digunakan membantu orang lain yang belum naik haji.

Veen terkadang tak mengerti mengapa umat Islam sendiri seringkali luput melihat pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Banyak surat-surat Al Quran yang berdasarkan lingkungan hidup. “Surat terpanjang saja, Al Baqarah, artinya sapi betina,” katanya.

Pemerintah Saudi sebenarnya sudah melakukan banyak hal bagi kenyamanan jamaah haji. Seperti kereta bawah tanah untuk meredam tekanan karena banyaknya mobil dan bus. Mereka juga mulai memberlakukan pembatasan, dimana pengulangan haji dilarang.

Populasi Mekkah dan Madinah mengganda saat muslim haji, yang terus meningkat setiap tahunnya. Menurut pengamat ibadah haji dari Saudi, Ruqaya Izzidien, langkah-langkah perbaikan juga harus dilakukan oleh jamaah sendiri.

“Sehingga ibadah haji tak hanya berkesinambungan dan mudah ditata, juga menjadi platform ideal untuk menggambarkan karakter Islam yang cinta lingkungan. Bukankah Nabi Muhammad mengajarkan umatnya untuk mencintai lingkungan?” ujarnya, menekankan agar jamaah selalu mengingat perannya sebagai penjaga lingkungan. [ast-inilahdotcom]

 

No Responses to “Jamaah Haji Harus Cintai Lingkungan”

Leave a Reply